kau merasuk di mimpi yusuf
sujud begitu takluk
Kau menahan hati yang terenggut
ciptakan damai yang terpaut
kau cahaya yang terasingkan
berkumpul dalam satu ruang
Kau bentuk yg terabadikan
tak berbayang dalam kelam
apa yg menjadi panggilan?
Si kecil yg bersahabat dengan malam
Tapi datang sendiri saat siang
matahari atau bintang?
Aku tak suka kau, kawan..
mengapa kalian saling berkedipan?
tak pernah menjaga pandangan
mengapa warnamu kau tukarkan?
seperti barang murahan...
(terinspirasi karena mati lampu di malam idul adha)
nb: mengapa bintang selalu berkedip? mengapa kadang mereka berubah warna??
Aku tak suka kau, Kawan
AKU DAN BIRU
Biru
Selalu kau bercerita
Tujuh ruang di atas dunia
Bertemu nabi Adam, Nabi Musa
Dan seluruh pembawa berita
Aku
Selalu aku bertanya
Mengapa senja membuatmu berubah warna?
Apa kau suka jingga?
Biru
Selalu kau berkata
Langit membuatmu bahagia
Karena Tuhan selalu ada
Aku
Masih tetap bertanya
Haruskah di Bumi kubuat nada?
Bukankah Tuhan ada dihati setiap hamba?
Biru
Pernah kau bahagia
Melihat seulas senyum diantar sang udara
Meski kadang tertahan di pohon tua
Aku
Selalu tak punya kata
Hingga bahagiamu terlalu sulit kuterka
Dan mengukir beribu sangka
Pada akhirnya
Semua tanyaku hanya asa
Atau mungkin rasa
Karena kau tetap saja dilangit sana
Biru...
Biru...
(Teruntuk biru yang sulit kugapai)
SURAT KECIL UNTUK TUHAN
Teruntuk Tuhan
di hatiku dan dihati setiap saudaraku...
harus kumulai dengan apa menulis surat ini??
Assalamualaikum Wr.Wb ??? Bukankah Engkau sendiri yang memiliki keselamatan itu???
Salam Hormat?? Tidakkah sejak dulu semua makhluk-Mu hormat bahkan sujud kepada-Mu?? meski ternyata makhluk-Mu dari golongan Manusia banyak yang tak melakukan itu. Mungkin mereka tersinggung karena dulu Iblis tak mau sujud kepada Adam.
Ah.. biarlah aku mulai dengan semua isi hatiku. Toh sebelum hatiku mengatakan sesuatu. Engkau selalu tau.
Tuhan...
Ramadhan tahun ini akan segera berlalu.
Aku ingin bertanya Tuhan.. tentang setiap permasalahan yang kuhadapi. masalah itu semakin banyak Tuhan. Aku takut mereka bertubrukan layaknya bom atom di Hiroshima.
Bolehkah aku sedikit mengeluh???
disaat orang lain Kau buat bersedih, mengapa Engkau buat aku Tertawa??
Disaat orang lain Kau tampakkan keburukannya, mmengapa Engkau buat aku tersembunyi??
Bolehkah aku sedikit meminta???
Aku ingin menangis saat Engkau kecewa ataupun bangga terhadapku
Aku ingin merindu setiap Engkau tak memanggilku
Bolehkah aku sedikit menolak???
Setiap Engkau menambah nikmatku tapi disaat itu pula Kau menyuruh malaikat Mikail mengambil nikmat saudaraku.
Setiap Engkau mengabulkan doaku disaat doa saudaraku Kau gantung dilangit-Mu.
Tuhan...
Bisakah Engkau katakan itu sedikit??
Bukankah setiap dongeng selalu menyediakan tiga permintaan???
aku hanya meminta dua untuk setiap hal. Biar satu permintaan itu Engkau yang Menentukan.
HAMBA YANG MENGELUH
Seorang iblis tiba di pelataran matahari dan masuk begitu saja tanpa mengucapkan salam. Berjalan dengan begitu tegap mengitari para pekerja di pusat tata surya itu. Ini adalah untuk kesekian kalinya kantor mereka didatangi tamu yang tak diundang dan membuat konsentrasi para pekerja terpecah belah. Beberapa hari yang lalu Jin baik dari bagian generator bermaksud mendatangi Tuhan untuk sekedar menyampaikan masalah mereka. Tapi kenyataannya keluhan itu tak pernah tersampaikan.
Pernyataan-pernyataan para iblis yang mengatakan bahwa Ia sama dengan mereka membuat seluruh keberanian Jin baik menguap.
Ia pernah meminta malaikat untuk menghadap dengan harapan Tuhan langsung mengabulkan permintaannya. Tapi malaikat yang selama ini selalu menjadi pegawai teladan selalu menggelengkan kepalanya. Akhirnya mereka putuskan berdiam diri untuk sementara waktu. Hingga ada yang berani untuk mengeluh kepada Tuhan. Tapi, diamnya para pekerja matahari membuat tempat kerja mereka semakin sesak oleh tamu tak berkepentingan. Dan tanpa mereka sadari, kekacauan itu mulai dirasakan Bumi.
oo0oo
Berjuta peluh mulai membasahi bumi, meski sang surya baru bergerak beberapa derajat. Membuat para penghuni Jakarta berdesakan mencari tempat perlindungan. Termasuk Aku. Tak kusangka, hari pertama puasaku di Jakarata disambut dengan begitu panasnya sang surya. Kulihat sang surya itu. Berharap Ia akan meredup karena takut. Tapi tatapanku tak berarti apa-apa. Justru dengan gagahnya Ia menatapku dan membuat mataku tertutup seketika. Kutarik pandanganku kembali dan melihat remaja di sampingku. Sejak berteduh tadi, ia sudah membuang 10 lembar tisu. Membuat jalanan di depanku dipenuhi gulungan-gulungan putih.
“Gila! Bisa-bisa kulit Gue item kalau Jakarta kaya gini mulu”. Keluhnya dengan suara pengeras masjid.
“loe si masih mending kulit loe putih. Kan kasian cewek samping loe…”. Timpal temannya.
Mereka berduapun tertawa. Aku tau, yang mereka maksud adalah Aku. Tapi biarlah, melayani mereka sama saja membuat sekelilingku semakin panas. Kuputuskan untuk pergi. Aku tak ingin puasaku hancur hanya karena dua orang yang tidak tau etika.
oo0oo
“Di Atmosfer Bumi terdapat kandungan gas yang sering disebut “Gas rumah Kaca”. Ini disebabkan karena gas tersebut mampu menjebak cahaya matahari yang masuk ke Bumi sehingga terjadi peningkatan suhu Bumi, dan inilah yang sering kita sebut Pemanasan Global”. seorang lelaki paruh baya sedang berdiri didepanku menjelaskan setiap slide yang Ia buat semalaman.
“Mengapa orang-orang lebih tertarik mengadakan seminar dibandingkan Penanaman pohon? Menurutku seminar seperti ini tak berpengaruh apa-apa terhadap Global Warming yang sekarang mulai mencapai stadium atas.” Ucapku dalam hati. “Mungkin karena Acara seperti ini hanya membutuhkan dana yang tak seberapa. Tapi aku sendiri bingung, mengapa matahari menjadi terasa begitu panas?”.
Jawaban pertanyaan ini yang kini tengah menjadi permasalahan terberat di Inti Matahari.
oo0oo
Para malaikat mengepakkan sayapnya selama 12 jam tanpa mengeluh. Membuat para jin semakin kesal melihatnya. Tapi apa yang bisa dilakukan Jin? Mereka sendiri tau malaikat diciptakan tanpa akal. Membuat para malaikat dengan senang hati melaksanakn setiap titah Tuhan. Tapi di sisi lain Jin begitu khawatir melihat tempat kerja mereka semakin panas oleh suhu tubuh para Iblis. Ini semua membuat mereka bekerja lebih keras. Mereka harus mampu membuat Matahari seperti dulu. Yang selalu membuat manusia tak pernah takut dengan sinarnya.
Tapi pekerjaan ini tak semudah yang dibayangkan. Mereka sudah mencoba untuk meminta bantuan Awan. Tapi baru sebentar saja Awan menutupi sinar Matahari, Angin sudah meniupnya. Mereka meminta bantuan Hujan. Tapi Ia baru bisa datang bulan maret depan. Akhirnya mereka hanya mampu bekerja semaksimal mungkin meski hasilnya Matahari tetap saja terasa sangat panas.
Namun ternyata keadaan yang semakin parah ini menjadi awal yang baik bagi Matahari. Karena jauh di Bumi sana ada begitu banyak manusia yang berani mengeluh pada Tuhan.
oo0oo
Kubaringkan tubuhku di depan sebuah kotak tua yang tanpa henti menayangkan gambar berjalannya. Ku otak atik tombol di bawah layar itu. Berharap menemukan sesuatu yang menarik. Tapi yang kutemukan hanyalah berita mengenai orang-orang yang melakukan shalat minta hujan. Aku sendiri tak tau apa nama shalat itu. Tapi setelah mereka shalat dua rakaat mereka mulai berdoa dipimpin oleh orang yang duduk di barisan paling depan. Ah… mengapa doa anak Adam selalu berisi keluhan? Kalau saja Aku yang menjadi Tuhan mereka, Aku sudah tak sanggup mendengar setiap keluhan dan rengekan mereka. Tapi ternyata Tuhan memang punya seluruh sifat baik sehingga doa orang-orang itu sampai ke hadapan-Nya.
oo0oo
Seorang malaikat berjalan menuju singgasana Tuhan untuk menyampaikan doa berpuluh-puluh anak Adam yang Ia terima lima menit yang lalu.
“ Wahai Tuhanku, Baru saja sebagian hamba-Mu berdoa agar Engkau mau menyelesaikan masalah mereka”. Lapor malaikat setelah bertemu dengan Tuhan.
“Ceritakanlah wahai malaikat!”
“Sudah beberapa bulan ini manusia merasa Matahari begitu panas, dan itu membuat hasil panen mereka gagal, saudara mereka terkena penyakit dan banyak lagi”.
“Engkau tau mengapa Matahari begitu panas?”.
“Sebenarnya hamba yakin Engkau sendiri sudah mengetahui kalau para Iblis mulai mendatangi Matahari dan menetap disana”.
“Baiklah, tolong perintahkan Iblis untuk menghadapKu”.
Malaikatpun berlalu dan datang kembali membawa seorang Iblis yang Tinggal di Matahari.
“Wahai Iblis! Mengapa kau tinggal di Matahari dan membuat hambaku di Bumi kepanasan?”.
“Sebenarnya manusia sendiri yang mengirimku kesana”.
“Apa maksudmu?”.
“Wahai Tuhanku! Manusia yang Engkau percaya untuk menjaga Bumi sudah begitu salah kaprah. Mereka bangun berbagai gedung dan membuang tanaman yang telah Engkau ciptakan sebelum mereka. Mereka ciptakan kendaraan yang membuat Bumi batuk karena bahayanya dan mereka juga membuat keluargaku tak punya tempat tinggal. Akhirnya keluargaku memutuskan untuk pergi ke Matahari dan tinggal disana. Tapi, baru saja kami bernapas lega, manusia mau kami keluar? Apa sebenarnya yang mereka inginkan?”.
Tuhan dengan bijak mendengarkan cerita Iblis. Ia melirik malaikat yang tak mampu berkata apa-apa.
“Baiklah. Kuizinkan kau tinggal di Matahari tapi dengan satu syarat”. Ucap Tuhan memutuskan.
“Apa syaratnya?”. Tanya Iblis
“Jangan ada lagi keluargamu yang datang dan tinggal disana. Biar mereka mencari tempat lain di Bumiku ini”.
“Baiklah”. Ucap iblis sambil berlalu
Malaikat tak pernah menanyakan mengapa Tuhan membuat sebuah keputusan meski ia merasa keputusan itu salah. Ia tak punya hak untuk mencampuri segala keputusan Tuhan. Tapi Tuhan berbaik hati menceritakan apa yang Ia pikirkan kepada malaikat.
“Taukah kamu malaikat, mengapa aku mengizinkan Iblis tetap tinggal di Matahari?”.
“ Hamba hanya makhluk bodoh yang tak tau apa-apa Tuhan”.
“Aku ingin manusia sadar akan apa yang ia lakukan terhadap makhlukKu yang lain. Biar aku tunggu manusia memperbaiki perbuatannya sendiri. Manusia adalah hamba-Ku yang selalu berpikir apa yang terbaik. Tolong sampaikan pada mereka kalau Aku tak bisa mengabulkan doa mereka yang satu ini”.
Malaikatpun berlalu meninggalkan Tuhan dengan satu misi barunya.
PUISI SANG BURUNG MERAK
GUGUR
Oleh :
W.S. Rendra
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Tiada kuasa lagi menegak
Telah ia lepaskan dengan gemilang
pelor terakhir dari bedilnya
Ke dada musuh yang merebut kotanya
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Ia sudah tua
luka-luka di badannya
Bagai harimau tua
susah payah maut menjeratnya
Matanya bagai saga
menatap musuh pergi dari kotanya
Sesudah pertempuran yang gemilang itu
lima pemuda mengangkatnya
di antaranya anaknya
Ia menolak
dan tetap merangkak
menuju kota kesayangannya
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Belumlagi selusin tindak
mautpun menghadangnya.
Ketika anaknya memegang tangannya
ia berkata :
" Yang berasal dari tanah
kembali rebah pada tanah.
Dan aku pun berasal dari tanah
tanah Ambarawa yang kucinta
Kita bukanlah anak jadah
Kerna kita punya bumi kecintaan.
Bumi yang menyusui kita
dengan mata airnya.
Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.
Bumi kita adalah kehormatan.
Bumi kita adalah juwa dari jiwa.
Ia adalah bumi nenek moyang.
Ia adalah bumi waris yang sekarang.
Ia adalah bumi waris yang akan datang."
Hari pun berangkat malam
Bumi berpeluh dan terbakar
Kerna api menyala di kota Ambarawa
Orang tua itu kembali berkata :
"Lihatlah, hari telah fajar !
Wahai bumi yang indah,
kita akan berpelukan buat selama-lamanya !
Nanti sekali waktu
seorang cucuku
akan menacapkan bajak
di bumi tempatku berkubur
kemudian akan ditanamnya benih
dan tumbuh dengan subur
Maka ia pun berkata :
-Alangkah gemburnya tanah di sini!"
Hari pun lengkap malam
ketika menutup matanya
SAJAK ANAK MUDA
Oleh :
W.S. Rendra
Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh angkatan takabur.
Kita kurang pendidikan resmi
di dalam hal keadilan,
karena tidak diajarkan berpolitik,
dan tidak diajar dasar ilmu hukum
Kita melihat kabur pribadi orang,
karena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa.
Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus,
karena tidak diajar filsafat atau logika.
Apakah kita tidak dimaksud
untuk mengerti itu semua ?
Apakah kita hanya dipersiapkan
untuk menjadi alat saja ?
inilah gambaran rata-rata
pemuda tamatan SLA,
pemuda menjelang dewasa.
Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan.
Bukan pertukaran pikiran.
SAJAK PERTEMUAN MAHASISWA
Oleh :
W.S. Rendra
Matahari terbit pagi ini
mencium bau kencing orok di kaki langit,
melihat kali coklat menjalar ke lautan,
dan mendengar dengung lebah di dalam hutan.
Lalu kini ia dua penggalah tingginya.
Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini
memeriksa keadaan.
Kita bertanya :
Kenapa maksud baik tidak selalu berguna.
Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga.
Orang berkata “ Kami ada maksud baik “
Dan kita bertanya : “ Maksud baik untuk siapa ?”
Ya ! Ada yang jaya, ada yang terhina
Ada yang bersenjata, ada yang terluka.
Ada yang duduk, ada yang diduduki.
Ada yang berlimpah, ada yang terkuras.
Dan kita di sini bertanya :
“Maksud baik saudara untuk siapa ?
Saudara berdiri di pihak yang mana ?”
Kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya.
Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota.
Perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja.
Alat-alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya.
Tentu kita bertanya :
“Lantas maksud baik saudara untuk siapa ?”
Sekarang matahari, semakin tinggi.
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.
Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
Kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini
akan menjadi alat pembebasan,
ataukah alat penindasan ?
Sebentar lagi matahari akan tenggelam.
Malam akan tiba.
Cicak-cicak berbunyi di tembok.
Dan rembulan akan berlayar.
Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda.
Akan hidup di dalam bermimpi.
Akan tumbuh di kebon belakang.
Dan esok hari
matahari akan terbit kembali.
Sementara hari baru menjelma.
Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan.
Atau masuk ke sungai
menjadi ombak di samodra.
Di bawah matahari ini kita bertanya :
Ada yang menangis, ada yang mendera.
Ada yang habis, ada yang mengikis.
Dan maksud baik kita
berdiri di pihak yang mana !
Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan,
dan bukan ilmu latihan menguraikan.
Dasar keadilan di dalam pergaulan,
serta pengetahuan akan kelakuan manusia,
sebagai kelompok atau sebagai pribadi,
tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji.
Kenyataan di dunia menjadi remang-remang.
Gejala-gejala yang muncul lalu lalang,
tidak bisa kita hubung-hubungkan.
Kita marah pada diri sendiri
Kita sebal terhadap masa depan.
Lalu akhirnya,
menikmati masa bodoh dan santai.
Di dalam kegagapan,
kita hanya bisa membeli dan memakai
tanpa bisa mencipta.
Kita tidak bisa memimpin,
tetapi hanya bisa berkuasa,
persis seperti bapak-bapak kita.
Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat.
Di sana anak-anak memang disiapkan
Untuk menjadi alat dari industri.
Dan industri mereka berjalan tanpa berhenti.
Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa ?
Kita hanya menjadi alat birokrasi !
Dan birokrasi menjadi berlebihan
tanpa kegunaan -
menjadi benalu di dahan.
Gelap. Pandanganku gelap.
Pendidikan tidak memberi pencerahan.
Latihan-latihan tidak memberi pekerjaan
Gelap. Keluh kesahku gelap.
Orang yang hidup di dalam pengangguran.
Apakah yang terjadi di sekitarku ini ?
Karena tidak bisa kita tafsirkan,
lebih enak kita lari ke dalam puisi ganja.
Apakah artinya tanda-tanda yang rumit ini ?
Apakah ini ? Apakah ini ?
Ah, di dalam kemabukan,
wajah berdarah
akan terlihat sebagai bulan.
Mengapa harus kita terima hidup begini ?
Seseorang berhak diberi ijazah dokter,
dianggap sebagai orang terpelajar,
tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan.
Dan bila ada ada tirani merajalela,
ia diam tidak bicara,
kerjanya cuma menyuntik saja.
Bagaimana ? Apakah kita akan terus diam saja.
Mahasiswa-mahasiswa ilmu hukum
dianggap sebagi bendera-bendera upacara,
sementara hukum dikhianati berulang kali.
Mahasiswa-mahasiswa ilmu ekonomi
dianggap bunga plastik,
sementara ada kebangkrutan dan banyak korupsi.
Kita berada di dalam pusaran tatawarna
yang ajaib dan tidak terbaca.
Kita berada di dalam penjara kabut yang memabukkan.
Tangan kita menggapai untuk mencari pegangan.
Dan bila luput,
kita memukul dan mencakar
ke arah udara
Kita adalah angkatan gagap.
Yang diperanakan oleh angkatan kurangajar.
Daya hidup telah diganti oleh nafsu.
Pencerahan telah diganti oleh pembatasan.
Kita adalah angkatan yang berbahaya.
SAJAK ORANG KEPANASAN
Oleh :
W.S. Rendra
Karena kami makan akar
dan terigu menumpuk di gudangmu
Karena kami hidup berhimpitan
dan ruangmu berlebihan
maka kami bukan sekutu
Karena kami kucel
dan kamu gemerlapan
Karena kami sumpek
dan kamu mengunci pintu
maka kami mencurigaimu
Karena kami telantar dijalan
dan kamu memiliki semua keteduhan
Karena kami kebanjiran
dan kamu berpesta di kapal pesiar
maka kami tidak menyukaimu
Karena kami dibungkam
dan kamu nyerocos bicara
Karena kami diancam
dan kamu memaksakan kekuasaan
maka kami bilang : TIDAK kepadamu
Karena kami tidak boleh memilih
dan kamu bebas berencana
Karena kami semua bersandal
dan kamu bebas memakai senapan
Karena kami harus sopan
dan kamu punya penjara
maka TIDAK dan TIDAK kepadamu
Karena kami arus kali
dan kamu batu tanpa hati
maka air akan mengikis batu
SAJAK SEBATANG LISONG
Oleh :
W.S. Rendra
Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka
Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-ka
nak
tanpa pendidikan.
Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.
Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.
…………………
Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.
Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :
bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor
Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.
Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.
Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.
………………
Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.
Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan
SAJAK SEONGGOK JAGUNG
Oleh :
W.S. Rendra
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda
yang kurang sekolahan.
Memandang jagung itu,
sang pemuda melihat ladang;
ia melihat petani;
ia melihat panen;
dan suatu hari subuh,
para wanita dengan gendongan
pergi ke pasar ………..
Dan ia juga melihat
suatu pagi hari
di dekat sumur
gadis-gadis bercanda
sambil menumbuk jagung
menjadi maisena.
Sedang di dalam dapur
tungku-tungku menyala.
Di dalam udara murni
tercium kuwe jagung
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda.
Ia siap menggarap jagung
Ia melihat kemungkinan
otak dan tangan
siap bekerja
Tetapi ini :
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda tamat SLA
Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.
Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.
Ia memandang jagung itu
dan ia melihat dirinya terlunta-lunta .
Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.
Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase.
Ia melihat saingannya naik sepeda motor.
Ia melihat nomor-nomor lotre.
Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.
Seonggok jagung di kamar
tidak menyangkut pada akal,
tidak akan menolongnya.
Seonggok jagung di kamar
tak akan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan.
Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan,
yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarya.
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.
Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya ?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya ?
Apakah gunanya seseorang
belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,
atau apa saja,
bila pada akhirnya,
ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata :
“ Di sini aku merasa asing dan sepi !”





