
Kepada jodohku di masa depan
Assalamualaikum Wr.Wb
Jodohku! Bagaimana kabarmu hari ini? O ya, kau tahu? Hari ini aku cemburu luar biasa. Tadi pagi aku melihat seorang perempuan yang kepalanya diusap dengan begitu lembut oleh seorang laki-laki dan siangnya aku melihat perempuan tertidur dengan begitu lelapnya dipundak laki-laki di sampingnya. Aku tak tahu mereka mahram atau bukan. Tapi yang pasti, dua hal itu yang sejak dulu selalu membuatku cemburu tak berkesudahan. Melihat semua itu hampir saja terbersit dalam pikiranku ingin berpacaran. Tapi tenang jodohku! Aku akan tetap memegang prinsipku untuk menjadikanmu yang pertama dan yang terakhir. Tapi kau harus janji saat kita menikah nanti kau harus mengusap kepalaku dengan penuh sayang setiap hari dan kau juga harus memperbolehkan aku tidur dipundakmu. Aduh jadi malu! Belum apa-apa ngomongnya udah nikah aja. Padahal rupamu saja aku belum tahu benar. Hehe... apa kau tampan jodohku? Kalau disamain sama artis kamu mirip siapa? Justin beiber? Apa artis korea? Hehe. Tapi kau tenang saja jodohku! Aku bukan orang yang melihat rupamu. Aku akan lebih bahagia jika hatimu jauh lebih tampan. Karena jodoh itu adalah saat hati kita disatukan oleh Tuhan. Bukan saat rupa kita disatukan. Tapi aku benar-benar penasaran seperti apa dirimu. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Apakah kau seperti apa yang aku minta dari Tuhanku? Karena percaya atau tidak dulu aku pernah meminta pada Tuhan mengirimkan jodohku seperti yang aku inginkan. Baik, punya suara bagus dan pandai membaca Alquran, tak perlu romantis tapi harus pengertian, tak perlu kaya tapi wajib punya tanggung jawab.
Jodohku! Di suratku ini, aku ingin bercerita banyak padamu. Kau tahu jodohku? Bagaimana panjangnya perjalananku untuk mencarimu selama ini? Perjalananku seperti nabi Ibrahim saat beliau mencari Tuhan. Dalam perjalanan ini aku bertemu dengan banyak laki-laki. Dalam hitungan beberapa langkah perjalanan hidupku aku bertemu dengan seorang laki-laki. Ia seperti bintang, jodohku. Ia sangat pintar, bahkan kepintarannya itu membuat ia menjadi begitu terkenal di lingkungannya. Banyak loh jodohku, yang nitip salam buat dia padaku. Tapi tiba-tiba saja ia berubah. Ia pergi tanpa pamit dan tanpa mengucapkan apapun. Sejak saat itu, tiap malam sang bintang tak pernah muncul. Apa semua itu karena tata surya terus berkembang jodohku? Hingga ia menjadi semakin jauh dariku. Entahlah jodohku. Aku sendiri bingung. Kuputuskan saja untuk melanjutkan perjalananku. Saat putaran jam yang entah keberapa kalinya aku bertemu dengan bulan. Ia pria yang sangat baik, jodohku. Ia selalu ada saat aku butuhkan. Bahkan terkadang ia rela menemaniku hingga pukul dua pagi jika aku tak mampu tidur. Kau tahu sendiri kan aku kayak gimana. Insomniaku belum bisa sembuh sampai saat ini. Tapi laki-laki itu mau mendengarkan ceritaku dengan baik tiap aku tak tidur. Bahkan ia selalu memberi saran setiap kali aku dihadapkan dengan sebuah masalah. Agh... saat itu aku berharap ia itu engakau jodohku. Tapi sepertinya bulan itu mulai mengikuti bintang untuk pergi. Tapi aku bersyukur karena ia masih bersikap baik padaku. Atau mungkin memang ia selalu bersikap baik untuk semua orang? Entahlah.
Sejak aku kehilangan untuk kedua kalinya aku semakin khawatir, jodohku. Mengapa engkau tak kunjung datang? Tidakkah engkau ingin bertemu denganku? Masih banyak pertanyaan dalam otakku tentang kapan engkau datang. Dalam kekhawatiranku inilah aku bertemu dengan matahari. Ia yang mengobati kekhawatiranku. Ia pria yang luar biasa, jodohku. Pria yang mengajarkan aku untuk selalu berbagi dalam hidup. Kau tahu jodohku? Ada satu kalimat darinya yang tak bisa aku lupakan. Ia pernah bilang sama aku “kaya, pintar, cantik/tampan tidaklah cukup jika kita masih hidup untuk diri kita sendiri.” Indah bukan kalimat itu jodohku? Kalimat itu yang membuatku tak lagi melihat seseorang dari harta, rupa serta kecerdasan yang mereka miliki. Tapi terlebih pada bagaimana hati mereka membuat segala nikmat Tuhan itu indah. Maaf jodohku, sampai saat ini aku belum mampu melupakan ia. Padahal ia juga sudah pergi meski kepergiannya tak seperti yang lain. Ia telah dijemput Tuhan, jodohku. Kurasa Tuhan terlalu menyayanginya dan ia memang pantas untuk disayangi. Sedih rasanya aku saat itu. Tapi akhirnmya Tuhan menyadarkanku. Di sepertiga malam Tuhan memberitahuku bahwa bukan ia yang Tuhan kirim untukku. Aku bingung. Lalu seperti apa kau, jodohku? Mengapa pria luar biasa seperti ia tak ditakdirkan Tuhan menjadi jodohku? Lalu Tuhan memberitahuku lewat sebuah ayat “sesunngguhnya wanita yang baik itu hanya untuk laki-laki yang baik. Begitupun sebaliknya. Laki-laki yang baik hanya untuk perempuan yang baik.” Akhirnya aku putuskan untuk berhenti menduga-duga. Aku akan menunggumu saja, jodohku. Aku yakin kau laki-laki yang jauh lebih luar biasa dibandingkan bintang, bulan, bahkan matahari.
Tapi kapan engkau datang, jodohku? Jangan- jangan kau baca dream mappingku. Jadi kau putuskan untuk datang di usia itu. Rasanya memang seperti itu. Baiklah! Akan kutunggu saat dimana kau akan datang. Tak perlu kau datang membawa makanan dan buah-buahan. Cukuplah kau datang membawa lingkaran kecil untuk jariku.
Aduh, maaf jodohku. Tapi saat ini aku memang ingin bercerita banyak. Kamu tahu semua sifat burukku kan? Hari ini sifat itu muncul. Tadi aku berdebat lagi dengan temanku. Masalah yang sepele sebenarnya. Cuma debat masalah nyepi itu seperti apa. Tapi tetap saja aku tak ingin berhenti. Ah! Sulit ternyata menghilangkan sifat keras kepala ini. Selalu saja ada perasaan tak puas jika aku tak menang. Jadi ingat masa kecilku. Waktu itu peringatan kemerdekaan dan aku ikut lomba balap karung. Kau tahu? Ditengah perjalanan aku jatuh dan kalah. Aku tak bisa menerima itu dan aku menangis sejadi-jadinya. Keluargaku tak bisa membiarkan aku seperti itu dan merekapun menyiapkan sebuah hadiah untukku, sampai di akhir acara panitia memanggil namaku sebagai pemenang dan memberikan hadiah yang dibuat oleh pamanku sendiri. Rasanya sudah banyak orang yang muak dengan sikap burukku yang satu ini. Tapi aku yakin kau mampu bertahan bahkan kau mampu merubahku menjadi lebih baik. Karena itu Tuhan mengirimmu untuk jadi jodohku. Karena Tuhan itu selalu tahu yang terbaik untuk hambaNya.
O ya, saat ini aku tengah ada masalah, jodohku. Masalah ini bukan Cuma jadi masalahku. Tapi akan menjadi masalah banyak orang. Sebenarnya aku ingin sekali cerita. Tapi aku udah janji kalau masalah ini jangan sampai didengar orang. Semoga ada jalan keluar untuk permasalahan ini. Saat ini aku dan teman-temanku pun tengah berusaha menyelesaikannya. Alhamdulillah ada orang yang begitu kreatif menyumbangkan ide cemerlangnya. Kuharap cara ini berhasil. Kamu doakan aku saja ya jodohku. Moga aja semakin banyak doa, harapan kita akan terwujud.
Sepertinya aku udah kebanyakan cerita. Udah dulu yah, jodohku! Udah malem juga. Asal kau tahu saja, aku nulis surat ini jam 12 malem. Hehe. Aku bingung harus nutup surat ini dengan apa. Aku tulis lirik lagu afgan aja yah jodohku.
Bawalah pergi cintaku
Pada ke mana pun kau mau
Jadikan temanmu
Temanmu paling kau cinta
Di sini ku pun begitu
Trus cintaimu di hidupku
Di dalam hatiku
Sampai waktu yang pertemukan
Kita nanti
Jangan GR loh jodohku. Lirik itu bukan sengaja aku tulis. Aku Cuma kebetulan aja lagi denger lagu itu. Hehe. Sudah yah! Aku mau tidur. Met malem jodohku. Jangan dulu ketemu di mimpi yah... biar aku tambah penasaran seperti apa kamu itu. Oke?
Assalamualaikum Wr.Wb
Dari calon pemilik hatimu
RINAI HUJAN
Setelah sekian lama matahari membuang panasnya ke bumi, hari ini hujan itu pun turun. Damai tercipta saat rintik pertama jatuh ke bumi. Tapi itu tak berlangsung lama, karena detik berikutnya justru menjadi sebuah pertengkaran yang telah lama hilang.
“Hujan! Tak bisakah kau turun lebih hati-hati? Tubuhku telah kering karena musim panas, dan seenaknya kau jatuhkan tubuhmu itu? Mengapa Tuhan tak mengirim gerimis saja dulu? Agar aku lebih siap menyambutmu”.
“ Maaf! Aku tak tau masalahmu. Aku hanya mengikuti apa yang Tuhan perintahkan. Kalau mau, kau berontak saja pada Tuhan”.
“Ah, sudahlah. Percuma bicara denganmu. Ayo! Turunkan rintikmu lebih banyak. Agar tak kudengar manusia itu mengeluh lagi setiap melihat retak di tubuhku ini”.
Itulah ucapan rindu sang bumi terhadap hujan, dan mungkin seperti itu pula perasaanku saat ini. Aku suka hujan meski ia selalu mengundang tangis saat ia datang.
0o0
Malam ini hujan mengetuk atap kamarku pelan. Itu memang kebiasaannya setiap musim hujan tiba. Datang sekedar untuk mendengarkan apa yang aku rasakan. Kusibak tirai kamar perlahan dan kutatap sahabat yang telah lama pergi itu. Sebenarnya sudah lama aku ingin bertanya pada hujan, tentang semua perasaan yang selalu muncul saat Ia datang. Perasaan yang aku tak pernah tau namanya. Tapi, setiap kali Ia datang, pertanyaan itu tak pernah terucap dari mulutku.
Untuk kesekian kalinya aku mencoba menatap hujan. Berharap Ia tahu tentang semua pertanyaanku padanya. Tapi jawaban itu tak pernah ada. Ia selalu saja memantulkan wajah senduku ditubuhnya, membuatku seperti orang gila yang bertanya pada dirinya sendiri, “mengapa ia gila?”.
Kututup kembali tirai kamar yang mulai berdebu. Kuputuskan untuk tak lagi bertanya padanya. Aku lelah. Lelah dengan semua jawaban yang tak pernah aku dapat dan semua sikap hujan yang tak pernah peduli.
Saat aku berjalan menuju tempat tidurku, tiba-tiba saja hujan itu memanggil, menciptakan suara yang lebih keras. Kuhentikan langkahku dan berbalik arah menuju jendela yang kebingungan melihat tingkahku.
“Apa yang kau lakukan? Tak bisakah kau diam dan tak membuatku bingung?”. Tanya jendela itu.
“Aku sendiri pun sebenarnya tak tau apa yang sedang aku lakukan. Tapi aku tak bisa diam saja. Aku ingin tau jawaban dari semua pertanyaanku. Apa kau bisa menjawabnya?”.tanyaku. tapi Ia diam saja. Aku tau Ia tak pernah bisa menjawab semua pertanyaanku. Ya sudahlah, aku juga tak pernah memaksanya.
Kucoba menatap hujan kembali. Mungkin sekarang Ia tau jawabannya. Tapi, setelah begitu lama aku menunggu, jawabannya itu tak kunjung tiba. Untuk kesekian kalinya Ia hanya memantulkan wajah senduku ditubuhnya. Kali ini aku benar-benar marah. Kututup tirai itu dengan keras dan aku pergi ke tempat tidurku. Hujan itu memanggilku kembali, tapi aku tak peduli. Sekeras apapun Ia memanggilku, aku takkan pernah mau menemuinya.
Sunyi kini mengambil alih posisi, menggantikan hujan yang mulai lelah memanggilku. Tapi itu hanya sesaat, karena setelah itu, angin kencang mulai meliuk-liuk di luar sana, mengantarkan secarik kertas yang tiba-tiba saja masuk ke kamarku.
Awalnya aku tak peduli. Tapi rasa penasaranku mengalahkan semuanya. Aku bangun, dan kuambil kertas itu. Ada tulisan di atasnya, meski mulai pudar karena hujan. Setelah berusaha keras, akhirnya aku mampu membaca semua tulisan itu. Sebuah puisi yang ditulis entah oleh siapa.
Genggaman mereka terlalu kuat
Takut ditelan malam pekat
Membuat mereka memelukku
Menjadi makhluk bisu
Aku datang untuk menjamu
Membawa cermin kalbu
Tapi kau tak pernah tau
Selalu saja berlalu
Namaku hujan
Dan tetap hujan
Aku tak tau siapa yang menulis puisi itu. Tapi Ia berhasil membuatku mengerti, mengapa hujan tak pernah mau berbicara. Hujan hanya diciptakan dengan satu suara saja. Dan suara itu yang kita artikan sebagai percikan. Jadi, mengapa aku selalu saja memaksanya bicara? Tapi, jika tak kudapat jawaban dari hujan, lalu dari mana? Bukankah selama ini kedatangannya yang menyebabkan semua pertanyaan itu muncul?.
Di tengah kesibukanku mencari jawaban, Ibu datang bersamaan dengan decitan pintu yang memang sudah tua. Kutatap wajah Ibu cukup lama. Wanita dengan mata sayu itu tersenyum, entah karena apa. Ia menghampiriku dan memelukku begitu erat. Sesuatu yang menjadi aneh dalam beberapa tahun belakangan ini. Aku diam saja, hingga Ia melepaskan pelukannya dan mulai menatapku.
“Rinai sedang liat apa?”. Tanya ibu. Tapi, aku diam saja.
Kemudian Ibu menyodorkan secarik kertas kosong padaku. Aku tau, Ibu tak pernah memaksaku untuk bicara. Karena itulah kertas itu selalu dibawanya kemana saja, agar Ia bisa membuatku berkomunikasi meski lewat sebuah tulisan. Tapi, saat ini aku tak tau apa yang harus aku tulis dikertas itu. Apa yang harus aku katakan pada Ibu? kulihat wajah Ibuku, dan akhirnya kata itupun ku goreskan di atas kertas. “Hujan”. Itu saja.
Ibu tersenyum. Ia menarik tanganku lembut menuju jendela yang kutinggalkan beberapa menit yang lalu. Untuk beberapa saat aku tak ingin mengikutinya ke tempat itu. Tempat yang membuatku tau bahwa tak pernah ada jawaban dari hujan. Tapi wajah ibu membuatku tak mampu menolak.
0o0
Jendela kamar memantulkan wajahku dan Ibuku di tubuhya. Persis seperti apa yang dilakukan hujan. Membuatku mampu melihat senyum ibu di depanku. Ia tersenyum? Ya, Ia selau saja tersenyum di depanku. Bahkan dalam situasi sulit sekalipun.
Ku tatap terus wajahnya tanpa rasa bosan. Bagaimana mungkin aku bosan melihat wajah yang menjadi sumber cahaya kehidupanku? Mata itu, keriput itu, lesung pipit yang mulai tak terlihat itu, dan semua yang ada dalam dirinya, membuat Ia terlihat cantik meski dimakan usia.
Saat aku tengah asyik menatap wajah lembut Ibu, Ia menyebut namaku.
“Apa yang Rinai rasakan saat hujan turun?”. Tanya Ibu dan yang menjadi tanyaku selama ini.
“Aku tak tau jawabaannya, Bu. Banyak perasaan yang muncul saat hujan turun. Tapi aku tak pernah mampu mendefinisikannya. Apa yang harus aku jawab?”. Ungkapku dalam hati. Tapi, hati seorang ibu selalu tak bisa kubohongi. Ia tetap saja tau apa yang aku rasakan dan aku simpan dalam hati. Ia menggenggam tanganku dan menempelkannya di jendela.
“Apa yang kau rasakan sekarang?”. Tanya ibu
Kutulis satu kata di kertas yang dibawa Ibu. “Dingin”.
“Rinai tau, sebenarnya hujan datang untuk Rinai. Ia ingin hati rinai dingin seperti saat rinai menyentuh jendela itu. Tapi Rinai tak mengerti keinginan hujan, dan itu membuat hati Rinai justru lebih marah. Ibu takkan bertanya apa yang membuat Rinai marah. Biar Rinai yang menjawabnya sendiri”.
Kalimat itu singkat. Tapi Ia berhasil masuk ke dalam hatiku dengan leluasa. Ibu benar. Hatiku marah, bahkan terkadang ingin sekali berontak dan melawan. Semua ini berawal dari kecelakaan yang kualami saat musim hujan tahun lalu. Kecelakaan yang merebut semua milikku. Ayah, ka Dewa, Ibu dan aku sendiri. Tuhan berhasil mengoyak hatiku dengan kejadian itu. Ia tak ragu menjadikan Ibu seorang janda dan menjadikanku seorang anak yatim dalam waktu yang bersamaan.
Apakah Tuhan tak ingin aku marah, sehingga Ia kirim hujan ini untukku? Mengapa? Karena Tuhan merasa bersalah dengan apa yang Ia lakukan terhadapku?.
“ Masih belum puas?” Tanya Ibu mengagetkan semua kepingan lamunanku. Aku mengangguk, dan Ibu membawaku ke halaman depan rumah. Ia tinggalkan aku sendirian selama beberapa menit, kemudian Ia datang membawa sebuah pertanyaan.
“Apa yang Rinai rasakan?”. Tanya Ibu seraya merangkulku.
Kutulis kembali kata yang aku punya di secarik kertas yang sama. “Sepi”.
“Rinai ingat, Ayah pernah bercerita tentang anak di kutub utara yang kesepian karena di tinggalkan oleh orang tuanya? Anak itu selalu mengadu pada Tuhan setiap malam. Kemudian Tuhan memeberikan aurora setiap anak itu merasa kesepian. Rinai bisa seperti anak itu, terus mengadu tanpa mengeluh pada Tuhan. Tuhan itu selalu menyayangi hamba-Nya. Makanya Rinai harus yakin, bahwa Tuhan selalu ada di samping kita. Mungkin Tuhan takkan bisa memberi Rinai Aurora seperti yang di dapat anak itu. Tapi, Rinai bisa dapat yang lebih baik. Asal Rinai mau bersyukur”.
Kalimat Ibu kembali membawa kepingan kenangan yang telah usang di arsip otakku. Dulu, ayah selalu duduk di halaman depan untuk menatap langit. Awalnya aku selalu melarang kebiasaan ayah yang seperti orang pengangguran itu. Tapi akhirnya aku tau, mengapa ayah melakukan itu. Ayah adalah orang yang tak pernah berhenti percaya pada Tuhan. Maka saat ia tau, Tuhan selalu menurunkan rahmat-Nya pada malam hari. Ia selalu menunggunya. Ia pernah berkata padaku, bahwa Tuhan tak pernah memberi. Ia hanya menyimpan. Oleh karena itu, kita harus menjemput apa yang kita inginkan. Bukan menerimanya. Tuhan itu sayang pada kita. Buktinya saat ayah merasa kesepian, Rinai datang buat nemenin Ayah. “jadi, kalau rinai ngerasa kesepian, Ayah bakalan datang nemenin Rinai?”. Tanyaku waktu itu. “Tentu. Ayah akan selalu ada kapanpun Rinai minta.”.
Aku tersenyum mengingat itu semua, tapi sekaligus menangis. Jika perkataan Ayah benar, mengapa Ia tak ada hari ini? Mengapa Ia pergi dan membuatku merasa kesepian?. Kulayangkan mataku untuk melihat seluruh sudut malam, hingga mataku berhenti pada wajah Ibu. Ya! Ayah benar. Akan selalu ada teman di saat kita merasa sepi dan sendiri. Buktinya, Ibu ada di sini bersamaku.
Kini aku tahu. Hujan ingin membuatku merasa lega dengan semua hal yang terjadi dalam hidupku, meski itu nampak buruk. Terima kasih Tuhan. Kau kirim jawaban dari pertanyaanku lewat orang terdekatku.
Kulihat wajah lembut di sampingku. “Terima kasih bu, karena udah jadi ibu terbaik untukku”. Ucapku dalam hati seraya memeluknya dengan erat.
Ibu tersenyum dan berkata, “Rinai tau mengapa Ibu memberi nama Rinai?”. Aku menggeleng. “karena Rinai seperti hujan. Selalu menjadi bening indah di mata Ibu dan Ayah. Sekarang juga Rinai seperti hujan. Sama-sama memiliki satu suara. Jika suara hujan bernama percikan. Maka suara Rinai bernama Suara hati. Jangan pernah mengeluh karena Rinai tak dapat berbicara seperti teman Rinai yang lain. Yakinlah, Rinai masih punya suara hati yang dapat membaca dunia lebih dalam dari pada sekedar suara lisan”.
Penjelasan terakhir Ibu memang tak masuk dalam pertanyaanku. Tapi semua itu membuat aku bertekad untuk buktikan bahwa anak bisu sepertiku mampu mengubah dunia. Ku tulis kata terakhir di kertas yang sama. “BISU”, dan aku serahkan pada Ibu. Ibu tersenyum. “Ibu akan selalu jadi kata buat Rinai”. Kata itu membuat rinai kecil jatuh di pelupuk mata. “Terima kasih ibu. Meskipun Rinai gak bisa bicara apapun. Rinai ingin Ibu tau, Rinai sayang sama Ibu”.
Hujan, turunlah! Turunkan rintikmu lebih banyak. Agar percikanmu mampu menterjemahkan suara hatiku dan menyampaikannya pada semua orang, bahwa ada seorang anak yang bahagia disini. Anak itu adalah Aku.
APA PEDULIKU?
Apa peduliku?
Saat jerit penuh rayu
Terus mencemoohku
Kurasa orang tahu
Apa peduliku?
Saat anak di bawah tugu
Diam terkungkung nafsu
Aku Belajar, kawan!
Seperti Tuhan dalam satu jarak insan
Seperti Bintang dalam satu jarak siang
Seperti hujan dalam satu jarak awan
Tunggulah hingga kau mengerti
Teriaklah hingga ku terbebani
Aku akan tetap jadi diri
Membiarkan atau memberi
Ingat kawan!
Aku pengganti Tuhan
Dari keterbatasannya menyentuh insan
Di balik keagungannya menciptakan
(Terinspirasi dari para pejabat yang merasa bukan sebuah kemewahan ketika diberi mobil mahal di saat ada rakyat yang lebih membutuhkan)
Dua Pertiga Malampun Cemburu
sepertiga malam...
mengapa hujan diwaktumu mampu membuatnya bertanya
padahal hujan diwaktuku lebih dari satu juta
tapi justru ia tak bahagia..
Aku cemburu...
Aku mengadu...
limit dua pertiga waktu...
Jauh lebih lama darimu...
Aku datang pada Tuhan..
Ia beri aku senyuman
taukah kamu? bahwa tidur hambaku yg shaleh di waktumu
mampu meredam murkaku?
Aku datang pada Rasulku
Iapun tersenyum atas keluhanku
taukah kamu? Aku selalu datang di mimpi umatku
Justru diwaktumu
Aku datang padanya
lalu apa jawabnya??
Aku tak punya
Tapi aku punya jawab atas tanyanya
mengapa tabrakan hujan tak pernah terjadi pada tetesnya?
karena mereka perlu waktu lama
untuk membuat mereka tak berperantara
(Sebagai balasan atas puisi kakak sekaligus sahabatku. jawaban terinspirasi dari jurnal Nature Physics yang dikeluarkan Emmanuael Villermaux dan Benjamin Bossa asal Universitas Aix-Marseille, Prancis)
Perawan Yang Dirantai
Mulier catenata...
Wajahmu redup di langit utara
Menanti decak kagum manusia
Satu triliyun bintang yg kau dera
Menjadikanmu kabut Bima
rasi yg jauh...
Kau terus saja tumbuh
melahap bintang yg tak pernah jatuh
satu persatu kau rengkuh
tak peduli meski harus mengayuh
Virgo devota...
kau adalah tetesan-tetesan peluh sang dewa
tercipta sebelum adam dan hawa
menjadikanmu makhluk tua renta
perlambang putri andromeda
kau lalai..
Karena bintang yg tersemai
terlalu indah dirangkai
selalu membalut hati dengan damai
Kau, Perawan yg dirantai...





