RSS

AKU TAK INGIN JADI GURU

orang di sekitarku selalu berkata guru adalah profesi terbaik untuk seorang perempuan... karna kita bisa mengatur waktu antara kapan kita mengajar, dan kapan kita menjadi seorang istri yang baik jika kita sudah menikah nanti. tapi rasanya saat ini aku kurang setuju. hari ini sudah dua minggu aku melakukan praktek mengajar di salah satu SMA negeri yang ada di tangerang Selatan. percaya atau tidak, ternyata waktuku lebih banyak kuhabiskan di sekolah... aku berangkat pukul enam pagi dan pulang dengan lusuh pukul enam sore. seorang guru di SMA tersebut pun pernah bercerita padaku bahwa beliau jarang bertemu dengan putrinya. karena saat beliau berangkat, sang putri belum bertemu dengan pangeran yang mampu membangunkannya.. dan saat beliau pulang.. sang putri telah kembali ke alam mimpi. jadi seperti itukah keteraturan waktu kita saat menjadi seorang guru?? aku rasa tidak..



lalu apa sebenarnya yang menjadi motivasi seseorang menjadi guru?? bahkan tak sedikit orang yang memilih pergi dan tinggal di pedalaman hanya uuntuk memberikan sedikit pelajaran. pernyataan dan pertanyaanku sudah jelas terlihat bahwa aku bukanlah orang yang menyukai dunia mengajar. aku selalu merasa yang berhak menjadi guru hanyalah orang-orang yang benar-benar sangat pintar dan menguasai begitu banyak hal. karna jika tidak, itu hanya akan menjadi kesempatan untuk membuat seseorang mendapatkan suatu pelajaran yang salah dan akhirnya menciptakan hasil yang jauh lebih buruk dari kita. Aku bukanlah orang yang pintar.. maka tak pernah terlintas di pikiranku untuk menjadi seorang guru. maka dari itu, pertanyaan yang tertulis di benakku sangat ingin ku ketahui jawabannya. layaknya saat al-Quran turun secara berangsur-angsur.. aku pun mendapatkan jawaban dari pertanyaanku secara kredit.



Hari pertama aku mengajar

mata berbinar-binar. entah karna terlalu bahagia atau hendak berurai air mata. yang pasti aku tegang luar biasa.. sejak pagi aku terus saja membaca materi yang akan ku ajarkan dan tak henti-hentinya mondar mandir di ruang guru hinggamembuat beberapa guru berkomentar tentang tingkah lakuku... begitu banyak perasaan yang menumpuk. takut salah, bingung menyampaikan, takut tak dihargai, sampai ingin terlihat sempurna karena proses pembelajaran di saksikan oleh sang guru pamong. semua perasaan yang justru selalu membuat seseorang tak mampu melakukan sesuatu dengan maksimal. kuputuskan untuk menghadap Tuhanku sesaat sebelum aku memasuki kelas dan melihat tatapan penuh tanya dari seluruh siswa.

hasilnya... kelasku penuh dengan kegaduhan.



Hari kedua mengajar

melihat begitu aktifnya siswa yang kuhadapi, kuputuskan untuk membuat sebuah permainan.. setiap anak ku bagi menjadi beberapa kelompok dan kuminta menjawab sebuah soal yang mereka pilih secara acak. dan yang mampu menjawabnya dengan benar, ia akan mendapatkan satu batang coklat.

hasilnya... sebuah diskusi indah yang terkendalikan.



seiring berjalannya waktu.. akhirnya dua minggu ku di sekolah tersebut menjadi dua minggu yang begitu indah. kalian tau sendir, awalnya aku tak pernah bercita-cita menjadi seorang guru... tapi saat kita mampu mengendalikan kelas, membuat siswa memahami apa yang kita sampaikan, hingga membuat siswa mau mempelajari apa yang sebelumnya tak ia mengerti, itu adalah suatu kebahagiaan yang teramat luar biasa... aku masih ingat bagaimana perasaanku saat beberapa siswaku mengirim sebaris kalimat pendek berisikan ucapan terima kasih karna aku mengajari mereka. Aahh.. sampai hari inipun senyum karna ucapan itu masih ada.



dua minggu yang masih menjadi sebuah awal membuatku mengerti bahwa guru bukan sebuah pilihan dari pikiran, melainkan dari hati. karna sejuta kebahagiaan yang akan kita dapatkan dari proses kita mengajar, adalah sesuatu yang hanya dapat dirasakan hati. walaupun awalnya aku adalah seseorang yang tak pernah suka menjadi seorang guru, tapi sekarang aku mengerti

Mengajar bukan profesi. Mengajar adalah kegemaran

Aku telah mencapai sebuah kesimpulan yang menakutkan bahwa aku

adalah unsur penentu di dalam kelas.

Pendekatan pribadikulah yang menciptakan iklimnya

Suasana hatikulah yang membuat cuacanya.

Sebagai seorang Guru, aku memiliki kekuatan yang sangat besar

untuk membuat hidup seseorang menderita atau gembira.

Aku bisa menjadi alat penyiksa atau pemberi ilham,

bisa bercanda atau mempermalukan,

melukai atau menyembuhkan.

Dalam semua situasi, reaksikulah yang menentukan

apakah sebuah krisis akan memuncak atau mereda

dan apakah seseorang akan diperlakukan sebagai manusia atau direndahkan.





*untuk engkau yang masih merasa menjadi seorang mahasiswa keguruan adalah sebuah kesalahan, dan untuk engkau yang masih merasa mengajar di kelas adalah satu hal yang tidak menyenangkan. renungi ceritaku! dan kuharap, engkau akan mendapatkan satu kesimpulan indah seperti yang kudapatkan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Syukurku akan Happy Class

Bismillah...

doa terbaik yang sering diucapkan oleh Rasulullah dan menjadi doa terbaik kita dulu dan sekarang (kaya iklan. Hehe)





Alhamdulillah...

segala puji bagi Engkau y Allah, yang telah memenuhi hidupku dengan malaikat2 yang selalu membuatku lebih baik. Mereka yang dengan hatinya mau menjadi sahabat orang sepertiku.



Subhanallah...

maha suci Engkau y Allah yang telah menundukkan kami agar kami tak lupa akan segala masa lalu yang pernah kami lewati. sungguh! selama kami bersama mencari setiap tetes ilmu yang Engkau punya, menjadi perjalanan yang berbatu ( salx jalanx rusak. hehe).

tapi dengan cara itulah Engkau membuat hati kami terpaut begitu dekat.



Astagfirullah......

maaf jika sekirax tujuan kami bersaudara belum karena Engkau. bahkan mungkin kami lebih sering melupakan Engkau untuk urusan kami sendiri.

tapi kami mohon, bimbing kami agar kami tidak termasuk hamba Engkau yang bercerai berai. ( kami bukan artis soalx)… kemarin aja, waktu Engkau uji kami dengan sebuah perpisahan kecil, kami sudah protes. hehe



Sahabat! Itu sebagian doa syukurku pada Tuhan. Sebenarnya gak mau di publish, tapi aku bosen. tiap kali cerita tentang kalian, pasti ujung-ujungnya pendengarnya bilang, “De, bersyukurlah punya temen2 yang begitu baik….”

Yah! Aku memang pantas untuk bersyukur. Bahkan terkadang aku selalu berpikir “Apa Tuhan tak terlalu berlebihan memperlakukanku sebagai hambaNya? Karena begitu baiknya Dia memberiku sahabat-sahabat terbaik.”



Sahabat! 24jam pernah kita lalui bersama.



buatku kalian seperti pagi yang mengajarkanku tentang semangat dan keyakinan. Semangat k'mamduh yang slalu datang untuk mengajarkan kita berbagai ilmu. saking semangatnya, ampe kelas kita jarang banget belajar sama pengajar yang lain. k'mamduh mulu...haha

Materi pertama kita di kahfi yang akhirnya membuatku selalu menanmkan keyakinan dalam hati. Dan salah satu bukti keyakinan itu adalah waktu kita menyisihkan sebagian milik kita untuk saudara-saudara kita yang lebih membutuhkan. Keyakinan akan sebuah pernyataan “saat kita memberi apa yang kita punya, Tuhan akan membalasnya dengan berlipat-lipat ganda.” Buktinya setelah acara itu, kita langsung makan gratis di rumah mama syihab. Hehe.. (makasih mah..).



Kalian seperti siang yang mengajarkanku tentang perjuangan dan ketegaran. Inget perjuangan k’angga, k’titin n k’bintari menyusuri hutan pinus jam 2 malem. Inget perjuangan k’gusman yang selalu baik hati dan rela kosannya diberantakin. inget perjuangan rozikin yang ampe nginep karna takut ketinggalan ke GB. inget perjuangan anak2 cowo yang dengan rela hati antar jemput anak cewex. Inget perjuangan Erik and syihab buat ngerjain orang2 yang ulang tahun. Inget perjuangan k’fikar yang selalu bela-belain datang buat acara kita. Inget perjuangan temen2 yang lain yang batalin acara demi bisa kumpul. Pokoknya banyak deh…yang paling inget... perjuangan erik dorong2 motor tengah malem krna banx bocor. haha... sumpah! kalian tuh gak bisa dilupain...



Kalian seperti sore yang mengajarkanku tentang hikmah atas kisah hari ini. Kalian yang mengajarkanku untuk tak mengeluh dengan kondisi apapun. Kalian yang mengajarkanku bahwa akan selalu ada kebahagiaan di ujung sana kalau kita mau menunggunya. Dan kalian yang mengajarkanku untuk tetap tersenyum. Dan perpisahan kelas kita juga yang akhirnya memberi sebuah hikmah bahwa kita begitu dekat.



Dan buatku kalian seperti malam, dimana aku dalam peluknya, tempat aku bercerita tentang suka, duka, getir, lara, dan menyusun rencana esok hari. Dipangkuannyalah aku lepaskan segala penat. Kalian selalu membuatku tertawa setiap kali kita bersama. and makasih buat perhatiannya pas de2 sakit. sebenarnya dede paling gak mau dilihat orang pas lagi sakit... tapi perhatian dari kalian bikin dede jatuh cinta. hahah..dan buat k’mamduh,,, makasih udah mau dengerin curhatan dede n ngasih komentar. Jangan bilang2 ama yang lain ya kak. Hehe… doain aja moga masalahnya selesai dengan baik. ^_^



Terakhir! Tolong jangan nilai tulisan ini dari bahasa n EYD-nya, soalnya pasti nilainya merah. Tapi aku tulis ini dari hati. Maka nilailah pake hati. Makasih kawan… Love you all.. setiap kenangan bersama kalian selalu terekam sampai kapanpun. ^_^

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS


Kepada jodohku di masa depan


Assalamualaikum Wr.Wb

Jodohku! Bagaimana kabarmu hari ini? O ya, kau tahu? Hari ini aku cemburu luar biasa. Tadi pagi aku melihat seorang perempuan yang kepalanya diusap dengan begitu lembut oleh seorang laki-laki dan siangnya aku melihat perempuan tertidur dengan begitu lelapnya dipundak laki-laki di sampingnya. Aku tak tahu mereka mahram atau bukan. Tapi yang pasti, dua hal itu yang sejak dulu selalu membuatku cemburu tak berkesudahan. Melihat semua itu hampir saja terbersit dalam pikiranku ingin berpacaran. Tapi tenang jodohku! Aku akan tetap memegang prinsipku untuk menjadikanmu yang pertama dan yang terakhir. Tapi kau harus janji saat kita menikah nanti kau harus mengusap kepalaku dengan penuh sayang setiap hari dan kau juga harus memperbolehkan aku tidur dipundakmu. Aduh jadi malu! Belum apa-apa ngomongnya udah nikah aja. Padahal rupamu saja aku belum tahu benar. Hehe... apa kau tampan jodohku? Kalau disamain sama artis kamu mirip siapa? Justin beiber? Apa artis korea? Hehe. Tapi kau tenang saja jodohku! Aku bukan orang yang melihat rupamu. Aku akan lebih bahagia jika hatimu jauh lebih tampan. Karena jodoh itu adalah saat hati kita disatukan oleh Tuhan. Bukan saat rupa kita disatukan. Tapi aku benar-benar penasaran seperti apa dirimu. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Apakah kau seperti apa yang aku minta dari Tuhanku? Karena percaya atau tidak dulu aku pernah meminta pada Tuhan mengirimkan jodohku seperti yang aku inginkan. Baik, punya suara bagus dan pandai membaca Alquran, tak perlu romantis tapi harus pengertian, tak perlu kaya tapi wajib punya tanggung jawab.

Jodohku! Di suratku ini, aku ingin bercerita banyak padamu. Kau tahu jodohku? Bagaimana panjangnya perjalananku untuk mencarimu selama ini? Perjalananku seperti nabi Ibrahim saat beliau mencari Tuhan. Dalam perjalanan ini aku bertemu dengan banyak laki-laki. Dalam hitungan beberapa langkah perjalanan hidupku aku bertemu dengan seorang laki-laki. Ia seperti bintang, jodohku. Ia sangat pintar, bahkan kepintarannya itu membuat ia menjadi begitu terkenal di lingkungannya. Banyak loh jodohku, yang nitip salam buat dia padaku. Tapi tiba-tiba saja ia berubah. Ia pergi tanpa pamit dan tanpa mengucapkan apapun. Sejak saat itu, tiap malam sang bintang tak pernah muncul. Apa semua itu karena tata surya terus berkembang jodohku? Hingga ia menjadi semakin jauh dariku. Entahlah jodohku. Aku sendiri bingung. Kuputuskan saja untuk melanjutkan perjalananku. Saat putaran jam yang entah keberapa kalinya aku bertemu dengan bulan. Ia pria yang sangat baik, jodohku. Ia selalu ada saat aku butuhkan. Bahkan terkadang ia rela menemaniku hingga pukul dua pagi jika aku tak mampu tidur. Kau tahu sendiri kan aku kayak gimana. Insomniaku belum bisa sembuh sampai saat ini. Tapi laki-laki itu mau mendengarkan ceritaku dengan baik tiap aku tak tidur. Bahkan ia selalu memberi saran setiap kali aku dihadapkan dengan sebuah masalah. Agh... saat itu aku berharap ia itu engakau jodohku. Tapi sepertinya bulan itu mulai mengikuti bintang untuk pergi. Tapi aku bersyukur karena ia masih bersikap baik padaku. Atau mungkin memang ia selalu bersikap baik untuk semua orang? Entahlah.

Sejak aku kehilangan untuk kedua kalinya aku semakin khawatir, jodohku. Mengapa engkau tak kunjung datang? Tidakkah engkau ingin bertemu denganku? Masih banyak pertanyaan dalam otakku tentang kapan engkau datang. Dalam kekhawatiranku inilah aku bertemu dengan matahari. Ia yang mengobati kekhawatiranku. Ia pria yang luar biasa, jodohku. Pria yang mengajarkan aku untuk selalu berbagi dalam hidup. Kau tahu jodohku? Ada satu kalimat darinya yang tak bisa aku lupakan. Ia pernah bilang sama aku “kaya, pintar, cantik/tampan tidaklah cukup jika kita masih hidup untuk diri kita sendiri.” Indah bukan kalimat itu jodohku? Kalimat itu yang membuatku tak lagi melihat seseorang dari harta, rupa serta kecerdasan yang mereka miliki. Tapi terlebih pada bagaimana hati mereka membuat segala nikmat Tuhan itu indah. Maaf jodohku, sampai saat ini aku belum mampu melupakan ia. Padahal ia juga sudah pergi meski kepergiannya tak seperti yang lain. Ia telah dijemput Tuhan, jodohku. Kurasa Tuhan terlalu menyayanginya dan ia memang pantas untuk disayangi. Sedih rasanya aku saat itu. Tapi akhirnmya Tuhan menyadarkanku. Di sepertiga malam Tuhan memberitahuku bahwa bukan ia yang Tuhan kirim untukku. Aku bingung. Lalu seperti apa kau, jodohku? Mengapa pria luar biasa seperti ia tak ditakdirkan Tuhan menjadi jodohku? Lalu Tuhan memberitahuku lewat sebuah ayat “sesunngguhnya wanita yang baik itu hanya untuk laki-laki yang baik. Begitupun sebaliknya. Laki-laki yang baik hanya untuk perempuan yang baik.” Akhirnya aku putuskan untuk berhenti menduga-duga. Aku akan menunggumu saja, jodohku. Aku yakin kau laki-laki yang jauh lebih luar biasa dibandingkan bintang, bulan, bahkan matahari.

Tapi kapan engkau datang, jodohku? Jangan- jangan kau baca dream mappingku. Jadi kau putuskan untuk datang di usia itu. Rasanya memang seperti itu. Baiklah! Akan kutunggu saat dimana kau akan datang. Tak perlu kau datang membawa makanan dan buah-buahan. Cukuplah kau datang membawa lingkaran kecil untuk jariku.

Aduh, maaf jodohku. Tapi saat ini aku memang ingin bercerita banyak. Kamu tahu semua sifat burukku kan? Hari ini sifat itu muncul. Tadi aku berdebat lagi dengan temanku. Masalah yang sepele sebenarnya. Cuma debat masalah nyepi itu seperti apa. Tapi tetap saja aku tak ingin berhenti. Ah! Sulit ternyata menghilangkan sifat keras kepala ini. Selalu saja ada perasaan tak puas jika aku tak menang. Jadi ingat masa kecilku. Waktu itu peringatan kemerdekaan dan aku ikut lomba balap karung. Kau tahu? Ditengah perjalanan aku jatuh dan kalah. Aku tak bisa menerima itu dan aku menangis sejadi-jadinya. Keluargaku tak bisa membiarkan aku seperti itu dan merekapun menyiapkan sebuah hadiah untukku, sampai di akhir acara panitia memanggil namaku sebagai pemenang dan memberikan hadiah yang dibuat oleh pamanku sendiri. Rasanya sudah banyak orang yang muak dengan sikap burukku yang satu ini. Tapi aku yakin kau mampu bertahan bahkan kau mampu merubahku menjadi lebih baik. Karena itu Tuhan mengirimmu untuk jadi jodohku. Karena Tuhan itu selalu tahu yang terbaik untuk hambaNya.

O ya, saat ini aku tengah ada masalah, jodohku. Masalah ini bukan Cuma jadi masalahku. Tapi akan menjadi masalah banyak orang. Sebenarnya aku ingin sekali cerita. Tapi aku udah janji kalau masalah ini jangan sampai didengar orang. Semoga ada jalan keluar untuk permasalahan ini. Saat ini aku dan teman-temanku pun tengah berusaha menyelesaikannya. Alhamdulillah ada orang yang begitu kreatif menyumbangkan ide cemerlangnya. Kuharap cara ini berhasil. Kamu doakan aku saja ya jodohku. Moga aja semakin banyak doa, harapan kita akan terwujud.
Sepertinya aku udah kebanyakan cerita. Udah dulu yah, jodohku! Udah malem juga. Asal kau tahu saja, aku nulis surat ini jam 12 malem. Hehe. Aku bingung harus nutup surat ini dengan apa. Aku tulis lirik lagu afgan aja yah jodohku.

Bawalah pergi cintaku
Pada ke mana pun kau mau
Jadikan temanmu
Temanmu paling kau cinta
Di sini ku pun begitu
Trus cintaimu di hidupku
Di dalam hatiku
Sampai waktu yang pertemukan
Kita nanti

Jangan GR loh jodohku. Lirik itu bukan sengaja aku tulis. Aku Cuma kebetulan aja lagi denger lagu itu. Hehe. Sudah yah! Aku mau tidur. Met malem jodohku. Jangan dulu ketemu di mimpi yah... biar aku tambah penasaran seperti apa kamu itu. Oke?

Assalamualaikum Wr.Wb

Dari calon pemilik hatimu

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

RINAI HUJAN

Setelah sekian lama matahari membuang panasnya ke bumi, hari ini hujan itu pun turun. Damai tercipta saat rintik pertama jatuh ke bumi. Tapi itu tak berlangsung lama, karena detik berikutnya justru menjadi sebuah pertengkaran yang telah lama hilang.
“Hujan! Tak bisakah kau turun lebih hati-hati? Tubuhku telah kering karena musim panas, dan seenaknya kau jatuhkan tubuhmu itu? Mengapa Tuhan tak mengirim gerimis saja dulu? Agar aku lebih siap menyambutmu”.
“ Maaf! Aku tak tau masalahmu. Aku hanya mengikuti apa yang Tuhan perintahkan. Kalau mau, kau berontak saja pada Tuhan”.
“Ah, sudahlah. Percuma bicara denganmu. Ayo! Turunkan rintikmu lebih banyak. Agar tak kudengar manusia itu mengeluh lagi setiap melihat retak di tubuhku ini”.
Itulah ucapan rindu sang bumi terhadap hujan, dan mungkin seperti itu pula perasaanku saat ini. Aku suka hujan meski ia selalu mengundang tangis saat ia datang.
0o0
Malam ini hujan mengetuk atap kamarku pelan. Itu memang kebiasaannya setiap musim hujan tiba. Datang sekedar untuk mendengarkan apa yang aku rasakan. Kusibak tirai kamar perlahan dan kutatap sahabat yang telah lama pergi itu. Sebenarnya sudah lama aku ingin bertanya pada hujan, tentang semua perasaan yang selalu muncul saat Ia datang. Perasaan yang aku tak pernah tau namanya. Tapi, setiap kali Ia datang, pertanyaan itu tak pernah terucap dari mulutku.
Untuk kesekian kalinya aku mencoba menatap hujan. Berharap Ia tahu tentang semua pertanyaanku padanya. Tapi jawaban itu tak pernah ada. Ia selalu saja memantulkan wajah senduku ditubuhnya, membuatku seperti orang gila yang bertanya pada dirinya sendiri, “mengapa ia gila?”.
Kututup kembali tirai kamar yang mulai berdebu. Kuputuskan untuk tak lagi bertanya padanya. Aku lelah. Lelah dengan semua jawaban yang tak pernah aku dapat dan semua sikap hujan yang tak pernah peduli.
Saat aku berjalan menuju tempat tidurku, tiba-tiba saja hujan itu memanggil, menciptakan suara yang lebih keras. Kuhentikan langkahku dan berbalik arah menuju jendela yang kebingungan melihat tingkahku.
“Apa yang kau lakukan? Tak bisakah kau diam dan tak membuatku bingung?”. Tanya jendela itu.
“Aku sendiri pun sebenarnya tak tau apa yang sedang aku lakukan. Tapi aku tak bisa diam saja. Aku ingin tau jawaban dari semua pertanyaanku. Apa kau bisa menjawabnya?”.tanyaku. tapi Ia diam saja. Aku tau Ia tak pernah bisa menjawab semua pertanyaanku. Ya sudahlah, aku juga tak pernah memaksanya.
Kucoba menatap hujan kembali. Mungkin sekarang Ia tau jawabannya. Tapi, setelah begitu lama aku menunggu, jawabannya itu tak kunjung tiba. Untuk kesekian kalinya Ia hanya memantulkan wajah senduku ditubuhnya. Kali ini aku benar-benar marah. Kututup tirai itu dengan keras dan aku pergi ke tempat tidurku. Hujan itu memanggilku kembali, tapi aku tak peduli. Sekeras apapun Ia memanggilku, aku takkan pernah mau menemuinya.
Sunyi kini mengambil alih posisi, menggantikan hujan yang mulai lelah memanggilku. Tapi itu hanya sesaat, karena setelah itu, angin kencang mulai meliuk-liuk di luar sana, mengantarkan secarik kertas yang tiba-tiba saja masuk ke kamarku.
Awalnya aku tak peduli. Tapi rasa penasaranku mengalahkan semuanya. Aku bangun, dan kuambil kertas itu. Ada tulisan di atasnya, meski mulai pudar karena hujan. Setelah berusaha keras, akhirnya aku mampu membaca semua tulisan itu. Sebuah puisi yang ditulis entah oleh siapa.

Genggaman mereka terlalu kuat
Takut ditelan malam pekat
Membuat mereka memelukku
Menjadi makhluk bisu

Aku datang untuk menjamu
Membawa cermin kalbu
Tapi kau tak pernah tau
Selalu saja berlalu

Namaku hujan
Dan tetap hujan


Aku tak tau siapa yang menulis puisi itu. Tapi Ia berhasil membuatku mengerti, mengapa hujan tak pernah mau berbicara. Hujan hanya diciptakan dengan satu suara saja. Dan suara itu yang kita artikan sebagai percikan. Jadi, mengapa aku selalu saja memaksanya bicara? Tapi, jika tak kudapat jawaban dari hujan, lalu dari mana? Bukankah selama ini kedatangannya yang menyebabkan semua pertanyaan itu muncul?.
Di tengah kesibukanku mencari jawaban, Ibu datang bersamaan dengan decitan pintu yang memang sudah tua. Kutatap wajah Ibu cukup lama. Wanita dengan mata sayu itu tersenyum, entah karena apa. Ia menghampiriku dan memelukku begitu erat. Sesuatu yang menjadi aneh dalam beberapa tahun belakangan ini. Aku diam saja, hingga Ia melepaskan pelukannya dan mulai menatapku.
“Rinai sedang liat apa?”. Tanya ibu. Tapi, aku diam saja.
Kemudian Ibu menyodorkan secarik kertas kosong padaku. Aku tau, Ibu tak pernah memaksaku untuk bicara. Karena itulah kertas itu selalu dibawanya kemana saja, agar Ia bisa membuatku berkomunikasi meski lewat sebuah tulisan. Tapi, saat ini aku tak tau apa yang harus aku tulis dikertas itu. Apa yang harus aku katakan pada Ibu? kulihat wajah Ibuku, dan akhirnya kata itupun ku goreskan di atas kertas. “Hujan”. Itu saja.
Ibu tersenyum. Ia menarik tanganku lembut menuju jendela yang kutinggalkan beberapa menit yang lalu. Untuk beberapa saat aku tak ingin mengikutinya ke tempat itu. Tempat yang membuatku tau bahwa tak pernah ada jawaban dari hujan. Tapi wajah ibu membuatku tak mampu menolak.
0o0
Jendela kamar memantulkan wajahku dan Ibuku di tubuhya. Persis seperti apa yang dilakukan hujan. Membuatku mampu melihat senyum ibu di depanku. Ia tersenyum? Ya, Ia selau saja tersenyum di depanku. Bahkan dalam situasi sulit sekalipun.
Ku tatap terus wajahnya tanpa rasa bosan. Bagaimana mungkin aku bosan melihat wajah yang menjadi sumber cahaya kehidupanku? Mata itu, keriput itu, lesung pipit yang mulai tak terlihat itu, dan semua yang ada dalam dirinya, membuat Ia terlihat cantik meski dimakan usia.
Saat aku tengah asyik menatap wajah lembut Ibu, Ia menyebut namaku.
“Apa yang Rinai rasakan saat hujan turun?”. Tanya Ibu dan yang menjadi tanyaku selama ini.
“Aku tak tau jawabaannya, Bu. Banyak perasaan yang muncul saat hujan turun. Tapi aku tak pernah mampu mendefinisikannya. Apa yang harus aku jawab?”. Ungkapku dalam hati. Tapi, hati seorang ibu selalu tak bisa kubohongi. Ia tetap saja tau apa yang aku rasakan dan aku simpan dalam hati. Ia menggenggam tanganku dan menempelkannya di jendela.
“Apa yang kau rasakan sekarang?”. Tanya ibu
Kutulis satu kata di kertas yang dibawa Ibu. “Dingin”.
“Rinai tau, sebenarnya hujan datang untuk Rinai. Ia ingin hati rinai dingin seperti saat rinai menyentuh jendela itu. Tapi Rinai tak mengerti keinginan hujan, dan itu membuat hati Rinai justru lebih marah. Ibu takkan bertanya apa yang membuat Rinai marah. Biar Rinai yang menjawabnya sendiri”.
Kalimat itu singkat. Tapi Ia berhasil masuk ke dalam hatiku dengan leluasa. Ibu benar. Hatiku marah, bahkan terkadang ingin sekali berontak dan melawan. Semua ini berawal dari kecelakaan yang kualami saat musim hujan tahun lalu. Kecelakaan yang merebut semua milikku. Ayah, ka Dewa, Ibu dan aku sendiri. Tuhan berhasil mengoyak hatiku dengan kejadian itu. Ia tak ragu menjadikan Ibu seorang janda dan menjadikanku seorang anak yatim dalam waktu yang bersamaan.
Apakah Tuhan tak ingin aku marah, sehingga Ia kirim hujan ini untukku? Mengapa? Karena Tuhan merasa bersalah dengan apa yang Ia lakukan terhadapku?.
“ Masih belum puas?” Tanya Ibu mengagetkan semua kepingan lamunanku. Aku mengangguk, dan Ibu membawaku ke halaman depan rumah. Ia tinggalkan aku sendirian selama beberapa menit, kemudian Ia datang membawa sebuah pertanyaan.
“Apa yang Rinai rasakan?”. Tanya Ibu seraya merangkulku.
Kutulis kembali kata yang aku punya di secarik kertas yang sama. “Sepi”.
“Rinai ingat, Ayah pernah bercerita tentang anak di kutub utara yang kesepian karena di tinggalkan oleh orang tuanya? Anak itu selalu mengadu pada Tuhan setiap malam. Kemudian Tuhan memeberikan aurora setiap anak itu merasa kesepian. Rinai bisa seperti anak itu, terus mengadu tanpa mengeluh pada Tuhan. Tuhan itu selalu menyayangi hamba-Nya. Makanya Rinai harus yakin, bahwa Tuhan selalu ada di samping kita. Mungkin Tuhan takkan bisa memberi Rinai Aurora seperti yang di dapat anak itu. Tapi, Rinai bisa dapat yang lebih baik. Asal Rinai mau bersyukur”.
Kalimat Ibu kembali membawa kepingan kenangan yang telah usang di arsip otakku. Dulu, ayah selalu duduk di halaman depan untuk menatap langit. Awalnya aku selalu melarang kebiasaan ayah yang seperti orang pengangguran itu. Tapi akhirnya aku tau, mengapa ayah melakukan itu. Ayah adalah orang yang tak pernah berhenti percaya pada Tuhan. Maka saat ia tau, Tuhan selalu menurunkan rahmat-Nya pada malam hari. Ia selalu menunggunya. Ia pernah berkata padaku, bahwa Tuhan tak pernah memberi. Ia hanya menyimpan. Oleh karena itu, kita harus menjemput apa yang kita inginkan. Bukan menerimanya. Tuhan itu sayang pada kita. Buktinya saat ayah merasa kesepian, Rinai datang buat nemenin Ayah. “jadi, kalau rinai ngerasa kesepian, Ayah bakalan datang nemenin Rinai?”. Tanyaku waktu itu. “Tentu. Ayah akan selalu ada kapanpun Rinai minta.”.
Aku tersenyum mengingat itu semua, tapi sekaligus menangis. Jika perkataan Ayah benar, mengapa Ia tak ada hari ini? Mengapa Ia pergi dan membuatku merasa kesepian?. Kulayangkan mataku untuk melihat seluruh sudut malam, hingga mataku berhenti pada wajah Ibu. Ya! Ayah benar. Akan selalu ada teman di saat kita merasa sepi dan sendiri. Buktinya, Ibu ada di sini bersamaku.
Kini aku tahu. Hujan ingin membuatku merasa lega dengan semua hal yang terjadi dalam hidupku, meski itu nampak buruk. Terima kasih Tuhan. Kau kirim jawaban dari pertanyaanku lewat orang terdekatku.
Kulihat wajah lembut di sampingku. “Terima kasih bu, karena udah jadi ibu terbaik untukku”. Ucapku dalam hati seraya memeluknya dengan erat.
Ibu tersenyum dan berkata, “Rinai tau mengapa Ibu memberi nama Rinai?”. Aku menggeleng. “karena Rinai seperti hujan. Selalu menjadi bening indah di mata Ibu dan Ayah. Sekarang juga Rinai seperti hujan. Sama-sama memiliki satu suara. Jika suara hujan bernama percikan. Maka suara Rinai bernama Suara hati. Jangan pernah mengeluh karena Rinai tak dapat berbicara seperti teman Rinai yang lain. Yakinlah, Rinai masih punya suara hati yang dapat membaca dunia lebih dalam dari pada sekedar suara lisan”.
Penjelasan terakhir Ibu memang tak masuk dalam pertanyaanku. Tapi semua itu membuat aku bertekad untuk buktikan bahwa anak bisu sepertiku mampu mengubah dunia. Ku tulis kata terakhir di kertas yang sama. “BISU”, dan aku serahkan pada Ibu. Ibu tersenyum. “Ibu akan selalu jadi kata buat Rinai”. Kata itu membuat rinai kecil jatuh di pelupuk mata. “Terima kasih ibu. Meskipun Rinai gak bisa bicara apapun. Rinai ingin Ibu tau, Rinai sayang sama Ibu”.
Hujan, turunlah! Turunkan rintikmu lebih banyak. Agar percikanmu mampu menterjemahkan suara hatiku dan menyampaikannya pada semua orang, bahwa ada seorang anak yang bahagia disini. Anak itu adalah Aku.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

APA PEDULIKU?

Apa peduliku?
Saat jerit penuh rayu
Terus mencemoohku

Kurasa orang tahu
Apa peduliku?
Saat anak di bawah tugu
Diam terkungkung nafsu

Aku Belajar, kawan!
Seperti Tuhan dalam satu jarak insan
Seperti Bintang dalam satu jarak siang
Seperti hujan dalam satu jarak awan

Tunggulah hingga kau mengerti
Teriaklah hingga ku terbebani
Aku akan tetap jadi diri
Membiarkan atau memberi

Ingat kawan!
Aku pengganti Tuhan
Dari keterbatasannya menyentuh insan
Di balik keagungannya menciptakan

(Terinspirasi dari para pejabat yang merasa bukan sebuah kemewahan ketika diberi mobil mahal di saat ada rakyat yang lebih membutuhkan)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS